Minggu, 28 September 2008

Tampang Preman, Hati Berlian

. Minggu, 28 September 2008




Sabtu, 27 September 2008 ]

Tampang Preman, Hati Berlian
Dear Aime,

I love Aime... Tiap Sabtu pagi, aku selalu baca Aime. Begitu Jawa Pos diantar ke rumahku, yang aku ambil duluan ya halaman Aime. Aku suka banget baca kamu sejak tiga tahun lalu. Dan aku nggak nyangka kalau sekarang harus ngirim curhatan ke kamu.

Mungkin, aku akan terus jadi pembaca setiamu kalau aku nggak ngalamin masalah ini. Soalnya, sejak aku punya trouble dengan kehidupan cintaku, aku sekarang nggak cuma jadi pembaca setia, tapi juga pemberi cerita.

Jadi, ceritanya, ups, lupa..belum kenalan ya. Hmm, panggil aja aku Fitri. Aku siswi kelas dua di salah satu SMA negeri di kawasan Surabaya Pusat. Sekarang aku punya pacar seorang mahasiswa semester satu yang kuliah di salah satu PTN ternama di Kota Surabaya.

Masalah cintaku berkisar dengan keluarga. Aku dan pacarku udah jadian hampir satu tahun. Physically, cowokku ini punya penampilan sangar. Badannya tinggi besar, kulitnya cokelat kehitaman. Tapi, aku nggak ngelihat itu. Soalnya, dia baik banget. Cintanya tulus buat aku. Semula, orang tuaku setuju aja sama pilihanku. Ya, meski cowokku bertampang "preman" kayak gitu.

Nah, sejak kakak perempuanku satu-satunya punya cowok, ortuku jadi berbalik nggak suka sama cowokku. Pasalnya, pacar kakakku itu berpenampilan "friendly". Kulit putih bersih, rambut nggak awut-awutan, bajunya rapi, dan kuliah di fakultas favorit di PTN ternama Surabaya.

Belum lagi, cara bicaranya memikat dan sopan. Waduh... kalau dibandingin sama pacar kakakku, cowokku bagaikan mutiara di dalam lumpur. Hiks, aku sedih banget Aime. Mama bahkan terang-terangan menyuruhku untuk segera putus dari cowokku.

Parahnya lagi, kakakku itu ikut manas-manasin mamaku supaya aku cepet putus dari cowokku. Padahal, semua yang mereka asumsikan itu salah! Meski cowokku bertampang preman, hatinya seindah berlian.

Bahkan, aku yakin, sifat cowokku itu lebih baik daripada cowok kakakku. Aku nggak terima diperlakukan nggak adil kayak gini. Tapi, aku bingung mau bersikap seperti apa. Soalnya, orang satu rumah telanjur men-judge a book by its cover. Tolong kasih aku saran terbaik ya, Aime. Cuma Aime yang Fitri percaya. Trims.

Fitri, sweet***@gmail.com

---

Dear Fitri,

Luv u too, Fitri. Makasih ya udah jadi pembaca setia Aime. Ah, Fitri bisa aja.. Aime jadi salting nih kalau dipuji-puji berlebihan kayak gitu. He he... Wah, tapi, kenapa pembaca setia Aime sekarang kena masalah yang pelik kayak gini? Kalau gitu, Aime akan beri solusi spesial, yang terbaik buat kamu. Spesial buat Fitri deh! Dibaca ya.

Ajukan bukti

Kalau orang rumahmu telanjur underestimated sama cowokmu gara-gara bertampang preman, yang pertama harus kamu lakukan adalah memberi pengertian baik-baik. Cari situasi saat suasana hati orang-orang rumah lagi baik, lalu kamu jelaskan bahwa penampilan bukan segalanya. Kamu harus bisa ngasih argumentasi yang tepat. Kalau perlu, sodorkan bukti-bukti kuat. Ceritakan prestasi-prestasinya, kebaikan hatinya, gimana alimnya dia, semua yang bagus-bagus deh. Plus, ajukan contoh cowok yang luarnya terlihat "baik-baik", padahal kelakuannya minus banget. Mungkin, dari situ ortumu bakal sadar.

Strategi perang dingin

Setelah kamu kasih pengertian, tapi mereka masih defend, langkah selanjutnya adalah pasang strategi. Misalnya nih, kamu sengaja bersikap diam. Seakan-akan sedang perang dingin dengan keluargamu. Lalu, datanglah cowokmu sebagai mediator antara kamu dan keluarga. Usahakan cowokmu bisa menampilkan sisi terbaiknya di mata kedua ortu dan kakakmu. Bukannya Aime ngajarin buruk lho, kamu bikin strategi seperti ini. Tapi, kamu kan berani ngeklaim kalau cowokmu baik, so let's show it!

Tetap setia

Setelah semua usaha kamu lakukan, sekarang kamu harus percaya sama kekuatan cinta. Dua cara tadi Aime yakini sudah cukup ampuh buat meluluhkan hati keluargamu. Jadi, jalan terakhir yang bisa kamu lakukan adalah setia dengan pacarmu. Tunjukkin kalau dengan pacaran, kamu bisa melakukan banyak hal positif. Tunjukkin meski banyak halangan, ikatan hati antara kamu dan cowokmu tetap kukuh. (Aime)

0 komentar: